Tarsius

Tarsius, yang merupakan primata berukuran kecil, tersebar merata di Pulau Sulawesi, kecuali Sulawesi Timur dan daerah Poso. Jenis Tarsius yang ada di Pulau Sulawesi berbeda dengan tarsius di Sumatera, dengan ciri khas yang cukup mencolok adalah bentuk muka dan ukuran badannya. Tarsius merupakan satwa yang aktif di malam hari (nocturnal), dan sering bersuara/melengking dengan frekuensi yang tinggi di waktu matahari terbit atau terbenam. Makanan Tarsius sebagian besar (77%) adalah binatang kecil seperti serangga tanah, dan lipan. Tarsius telah dilindungi oleh Pemerintah Indonesia sejak tahun 1990, dan terdaftar dalam Lampiran Satwa Liar Dilindungi di dalam Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999.

Dari hasil wawancara dengan masyarakat di Togean di tahun 2002, Tarsius dianggap sebagai hama tanaman perkebunan, dimana hal ini tidak sepenuhnya benar. Tarsius yang berada di areal perkebunan diyakini merusak tanaman, padahal Tarsius berada di areal tersebut karena mencari serangga yang biasa hidup di tanaman perkebunan tersebut.

Volume perdagangan Tarsius untuk keperluan komersial masih menjadi tanda tanya hingga saat ini. Sebagai pembanding,  data pemantauan penyelundupan satwa liar yang melalui Pelabuhan Bakauheni di Lampung yang dilakukan oleh WCU antara tahun 2004 – 2010 hanya mendapatkan satu kali pengiriman Tarsius. Tingginya tingkat kematian Tarsius karena faktor stress menjadi perhatian utama para pedagang satwa yang ingin memindahkan satwa ini dari daerah tangkapan ke pasar burung atau kolektor. Tarsius yang disita oleh BKSDA Lampung dari penyelundup yang beroperasi menggunakan bus DAMRI, pada akhirnya mati di tempat penampungan, diduga karena stress di dalam perjalanan dari Sumatera Selatan ke Lampung.

Kelelawar (Paniki)

Praktek-praktek perdagangan satwa liar untuk kebutuhan daging terjadi di negara-negara dengan kemelimpahan kelelawar yang tinggi, ketahanan pangan yang rendah, dan lemahnya peraturan pelestarian satwa liar yang ada. Situasi ini cocok dengan kondisi di Negara-negara Asia Tenggara (Jenkins and Racey, 2008; Scheffers et al., 2012).

Konsumsi kelelawar di Sulawesi Utara, atau lebih dikenal dengan nama paniki,  meningkatkan tekanan perburuan yang meluas sampai di luar wilayah Sulawesi Utara. Dari hasil patroli jalan raya di Sulawesi Utara yang bertujuan untuk memeriksa perdagangan mamalia dilindungi, temuan kelelawar dalam jumlah besar paling sering dijumpai oleh petugas. Kelelawar diangkut dengan truk atau mobil kargo yang mengarah ke Sulawesi Utara (Lee et al, 2005). Kelelawar dari kelompok Pteropodidae tingkat ancamannya lebih signifikan dibandingkan kelompok lainnya, dikarenakan perburuan dalam jumlah besar (Mickleburgh et al., 2002; Schipper et al., 2008).

Perburuan kelelawar menyasar marga Pteropus dan Acerodon (flying foxes) karena ukuran badan yang besar dan hidupnya cenderung berkoloni dalam jumlah besar, sehingga meningkatkan peluang untuk ditangkap (Mickleburgh et al., 2009).

Di tahun 2013, Sheherazade dan Susan M. Tsang melakukan survey konsumsi paniki di delapan pasar utama di dekat Manado. Tujuannya adalah untuk mengukur perilaku atau kebiasan masyarakat Sulawesi Utara terhadap konsumsi paniki, kemudian menemukan formula yang tepat untuk kepentingan kampanye konservasi. Masyarakat lokal setidaknya makan paniki satu kali sebulan, namun frekuensi ini meningkat sepuluh kali lipat sepanjang libur Natal. Setidaknya 500 metrik ton paniki diimpor dari beberapa propinsi diluar Sulawesi Utara, antara lain Sulawesi Selatan menyumbang 38% volume paniki yang dijual. Setidaknya 30-50 kg kelelawar yang setara dengan 45-75 individu dijual setiap harinya. Jumlah ini meningkat menjadi 150-445 individu di Hari Sabtu atau Minggu, dengan harga bervariasi antara Rp. 7500 – 45.000 tergantung ukurannya.

Dengan pendapatan sebesar Rp 50 juta setahun, kelelawar menjadi sumber utama pendapatan vendor (Harison, et al., 2011). Dari hasil survey, masyarakat lokal tidak merasa ada dampak negatif, seperti kecewa atau marah, apabila mereka tidak memakan kelelawar. Memakan kelelawar menjadi hal yang lumrah karena telah tersedia di pasar. Karena telah tersedia dipasar itulah, masyarakat lokal tidak memperhatikan dampak konsumsi kelelawar terhadap kelestarian di habitat aslinya.

Lebih jauh lagi, Sheherazade dan Tsang (2013), solusi yang ditawarkan untuk mengatasi perburuan dan konsumsi paniki di Sulawesi Utara antara lain: (1) melibatkan pihak gereja sebagai saluran penting untuk melakukan pendidikan lingkungan dan pengetatan jatah tangkap atau perdagangan; (2) peraturan resmi yang diberlakukan antar propinsi untuk mengatasi perdagangan lintas batas; (3) mencari pengganti paniki dengan pilihan yang lebih berkelanjutan; (4) melibatkan pelajar di daerah sebagai agen kampanye untuk memastikan kampanye mendapatkan penerimaan yang tinggi dari masyarakat setempat.

ENHANCING THE PROTECTED AREA SYSTEM IN SULAWESI FOR BIODIVERSITY CONSERVATION (E-PASS)

Adalah proyek bantuan luar negeri yang dirancang guna membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, khususnya pembangunan konservasi di Sulawesi. Proyek ini mendapat dukungan pendanaan dari GEF (Global Environment Facility) sebesar USD 6.265.000,- untuk jangka waktu 5 tahun (2015-2020).

Tujuan utama Proyek E-PASS adalah memperkuat efektifitas dan keberlanjutan pendanaan sistem kawasan konservasi di Sulawesi dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.

EPASS BIODIVERSITY INFORMATION SYSTEM

Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Gedung Pusat Kehutanan Manggala Wanabakti Blok 7 Lt. 7 Jl Jend Gatot Subroto Jakarta 10270, Indonesia