Penyu

Selain satwa liar darat, penyu hijau dimanfaatkan oleh masyarakat Sulawesi Utara untuk perayaan pengucapan (Thanksgiving). Seekor penyu hijau dewasa di pasar lokal dihargai Rp. 350.000,-. Salah satu area nelayan yang melakukan perburuan penyu adalah Desa Bau Lubang, Pulau Lembeh.

Perburuan Penyu Hijau (Chelonia mydas) yang mayoritas dilakukan oleh etnis Bali di Sulawesi Tengah, ditemukan di Kabupaten Parigi Moutong. Penyu yang tertangkap dimanfaatkan dagingnya, sementara tempurung punggung (carapace) dijadikan pajangan. Pulau Pasoso di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah yang merupakan tempat pendaratan penyu hijau untuk bertelur tidak luput dari upaya pencurian telur penyu. Perburuan penyu di Pasoso telah berlangsung sejak tahun 1980 an untuk diambil daging dan telur. Adanya pengawasan dari Dinas Kelautan dan Perikanan melalui kegiatan patroli memberikan dampak pengurangan perburuan, namun ancaman pencurian telur penyu masih berlangsung hingga saat ini.

Perburuan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) untuk diambil daging atau keping-keping tempurung punggung dideteksi oleh WCU di daerah Buton, perairan Mamuju di Makassar, dan meluas sampai di perairan Kalimantan Timur, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Ketika pelaku ditangkap, alasan yang selalu disampaikan ke petugas adalah penyu tidak sengaja tertangkap oleh jaring mereka. Modus ini sama dengan perburuan penyu di Pangandaran untuk dijadikan souvenir. Alasan bahwa penyu tidak sengaja masuk ke dalam jaring nelayan menjadi alasan yang paling umum dijumpai. Untuk mendapatkan keping Penyu Sisik, pemburu menuangkan air panas ke punggung penyu hingga sisik nya mengelupas. Keping Penyu Sisik selanjutnya dijual oleh para pemburu ke penampung lokal di Makassar, Surabaya, Bali, dan Nusa Tenggara Timur. WCU di tahun 2015 dan 2016 menemukan eksportir keping Penyu Sisik di Bali dan Surabaya.

Di Bulan Di Bulan Oktober 2015, seorang penampung penyu ditangkap di Surabaya dengan barang bukti 79 kilogram daging dan keping penyu. Pelaku mengakui bahwa daging dan keping Penyu Sisik dibeli dari penampung lokal di Makassar dan Bali. Di Bulan Maret 2016, dua orang penampung penyu ditangkap oleh Polda Makassar dan NTT dengan barang bukti berupa 18 set keping Penyu Sisik.

ENHANCING THE PROTECTED AREA SYSTEM IN SULAWESI FOR BIODIVERSITY CONSERVATION (EPASS)

Adalah proyek bantuan luar negeri yang dirancang guna membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, khususnya pembangunan konservasi di Sulawesi. Proyek ini mendapat dukungan pendanaan dari GEF (Global Environment Facility) sebesar USD 6.265.000,- untuk jangka waktu 5 tahun (2015-2020).

Tujuan utama Proyek E-PASS adalah memperkuat efektifitas dan keberlanjutan pendanaan sistem kawasan konservasi di Sulawesi dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.

EPASS BIODIVERSITY INFORMATION SYSTEM

Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Gedung Pusat Kehutanan Manggala Wanabakti Blok 7 Lt. 7 Jl Jend Gatot Subroto Jakarta 10270, Indonesia