LATAR BELAKANG

Pengembangan EPASS – Biodiversity Information System (BIS) didasari oleh adanya kebutuhan peningkatan akses terhadap informasi keanekaragaman hayati yang berkualitas tinggi dan yang dapat diandalkan (reliable) untuk Pulau Sulawesi.

  • BIS berfungsi sebagai salah satu simpul informasi Keanekaragaman Hayati yang berada pada Taman Nasional Sulawesi.
  • Pengelolaan data dan informasi keanekaragaman hayati dibawah supervisi Ditjen KSDAE dan Balai Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan;
  • Data-data yang dikelola oleh BIS adalah laporan analisis hasil dari aktifitas di Kawasan Konservasi oleh Staff Pemerintah, Peneliti serta Mitra Kerja yang telah melalui proses verifikasi sebelum dipublikasikan;
  • Basis data BIS merupakan data-data konservasi serta profil daerah konservasi yang meliputi spesies dan ekosistem;
  • Dataset BIS berbentuk Data Geospasial, memiliki komponen geografis di dalamnya dimana setiap rekam data dikaitkan dengan informasi lokasi dalam bentuk koordinat yang mengacu pada sistem koordinat nasional.

EPASS – BIS merupakan Portal Informasi Berbasis Web dengan konten informasi meliputi:

  • Field Monitoring TN: hasil pemantauan/patroli taman nasional. Contoh: penebangan liar, perburuan liar, perjumpaan hewan liar, dan lain-lain.
  • Scientific Monitoring: inventarisasi taman nasional yang dilakukan secara scientific sampling yang dapat diolah menjadi informasi analisis. Contoh: Kelimpahan spesies, Keanekaragaman ekosistem, penentuan species kunci, dan lain-lain.
  • Biodiversity Profile dan Policy: hasil analisa umpan balik dari aktifitas pemantauan. Output kebijakan dari pemerintah atau pengelola yang berkaitan dengan kawasan. Contoh: Rencana Strategis, PerMen, JukLak, Dokumen Laporan.

Tujuan dibangunnya BIS secara umum adalah untuk meningkatkan akses terhadap data dan informasi keanekaragaman hayati Sulawesi khususnya untuk pengambil keputusan, peneliti dan pemangku kepentingan lainnya di dalam maupun di luar Indonesia. Sistem informasi ini dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengawal pembangunan dan pelestarian sumber daya alam kehati. Peran BIS tidak saling meniadakan dengan sistem basis data kawasan konservasi lainnya (cth. SIDAK, SITROOM, RBM SMART), namun memang salah satu tujuannya adalah mempublikasikan hasil kinerja tidak hanya KLHK dan Balai Konservasi, namun Peneliti dan mitra juga bisa berkontribusi.

Untuk Bidang Teknis KSDA, basis data yang dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan untuk membantu tugas pokok pengelolaan kawasan hutan, terutama dalam ketersediaan data untuk kepentingan pembuatan:

  1. Rencana Kerja
  2. Laporan Statistik BKSDA
  3. Laporan Triwulan
  4. Laporan Tahunan
  5. Laporan Pendataan Konservasi
  6. Ecosystem Health Index
  7. METT Scoring
  8. Indikator Populasi Satwa

ENHANCING THE PROTECTED AREA SYSTEM IN SULAWESI FOR BIODIVERSITY CONSERVATION (EPASS)

Adalah proyek bantuan luar negeri yang dirancang guna membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, khususnya pembangunan konservasi di Sulawesi. Proyek ini mendapat dukungan pendanaan dari GEF (Global Environment Facility) sebesar USD 6.265.000,- untuk jangka waktu 5 tahun (2015-2020).

Tujuan utama Proyek E-PASS adalah memperkuat efektifitas dan keberlanjutan pendanaan sistem kawasan konservasi di Sulawesi dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.

EPASS BIODIVERSITY INFORMATION SYSTEM

Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Gedung Pusat Kehutanan Manggala Wanabakti Blok 7 Lt. 7 Jl Jend Gatot Subroto Jakarta 10270, Indonesia