Maleo

Maleo merupakan burung berukuran 55-60cm dengan sayap bagian atas berwarna kehitaman, kaki berwarna abu-abu, kulit muka kuning, iris merah kecoklatan, paruh orange kemerahan, dan bagian dada sampai perut berwarna kemerahan salmon. Bagian mahkota kepala dihiasi dengan tanduk menyerupai helm berwarna hitam. Jantan dan betina hampir identik secara fisik, dengan betina berukuran sedikit lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibandingkan jantan. Warna bulu anak maleo didominasi warna kecoklatan muda. Maleo bertelur dan menimbun telur di daratan yang hangat seperti tanah berpasir dekat pantai atau di kawasan hutan yang mempunyai suhu tanah antara 32-34 derajat celcius. Maleo mulai bertelur pada usia 3 tahun dan dalam setahun bisa menghasilkan rata-rata 10 butir telur. Telur maleo berukuran besar, dengan berat mencapai 250 gram.

Birdlife International (2013) memperkirakan total populasi maleo berkisar antara 4,000 – 7,000 breeding pairs, atau setara dengan 8,000 – 14,000 individu dewasa atau 12,000 – 21,000 total individu. O’Brien & Kinnaird (1996) memperkirakan kepadatan populasi maleo di CA Tangkoko 0.2 individu per km2, yang didasarkan pada hasil survey tahun 1993/94. Populasi ini menurun drastis (lebih dari 80%) dalam kurun waktu 15 tahun dibandingkan dengan hasil survey 1978/79. Kondisi yang sama juga terjadi di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Maleo telah dimasukkan ke dalam daftar jenis satwa liar yang dilindungi oleh Undang-Undang No. 5 tahun 1990. IUCN Redlist telah memasukkan maleo ke dalam kategori Endangered yang artinya terancam punah apabila tidak ada upaya konservasi yang signifikan untuk menanggulangi ancaman yang ada. Maleo saat ini masih dapat ditemukan di Cagar Alam Saluki, Cagar Alam Panua, Donggala, di Taman Nasional Lore Lindu, Tanjung Matop, Toli-Toli, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (Gorontalo dan Sulawesi Utara). Populasi maleo di Panua diperkirakan antara 550 sampai 600 individu. Pengelola cagar alam ini mencatat kenaikan jumlah anak maleo yang menetas di program penetasan, dari 95 individu anakan di tahun 2014 menjadi 120 individu di tahun 2015.

Populasi Maleo di Sulawesi Tengah dan Gorontalo diyakini semakin menurun akibat rusaknya habitat alami dan perburuan untuk diambil telurnya. Di Sulawesi Tengah, burung Maleo diburu untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan. Lokasi-lokasi perburuan Maleo yang teridentifikasi di Sulawesi Tengah antara lain di hutan sekitar Desa Simorom Omu, Saluki, dan Tuva di Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi.

Upaya perlindungan maleo mendapat tantangan dari masyarakat lokal yang mengkonsumsi telur untuk acara-acara tradisional. Selain deforestasi di Cagar Alam Panua, penurunan jumlah maleo juga disebabkan oleh penggunaan telur maleo untuk kepentingan ritual-ritual tradisional. Permintaan pengambilan telur maleo, atau bila perlu membeli, berasal dari masyarakat lokal kepada pengelola Panua. Telur maleo ini diyakini oleh masyarakat merupakan bagian vital dari ritual-ritual tradisional untuk merayakan pernikahan. Kelompok masyarakat lain mengatakan bahwa telur maleo juga digunakan untuk keperluan pengobatan tradisional.

ENHANCING THE PROTECTED AREA SYSTEM IN SULAWESI FOR BIODIVERSITY CONSERVATION (EPASS)

Adalah proyek bantuan luar negeri yang dirancang guna membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, khususnya pembangunan konservasi di Sulawesi. Proyek ini mendapat dukungan pendanaan dari GEF (Global Environment Facility) sebesar USD 6.265.000,- untuk jangka waktu 5 tahun (2015-2020).

Tujuan utama Proyek E-PASS adalah memperkuat efektifitas dan keberlanjutan pendanaan sistem kawasan konservasi di Sulawesi dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.

EPASS BIODIVERSITY INFORMATION SYSTEM

Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Gedung Pusat Kehutanan Manggala Wanabakti Blok 7 Lt. 7 Jl Jend Gatot Subroto Jakarta 10270, Indonesia