Spesies Prioritas

Sulawesi secara unik menampilkan karakteristik biogeografis kedua lempeng benua tersebut melalui kekayaan keanekaragaman hayati, sebagai kontribusi signifikan terhadap posisi Indonesia sebagai kepulauan mega-biodiversiti. Akan tetapi, dibandingkan dengan pulau dengan keanekaragaman hayati tinggi lainnya di Indonesia seperti misalnya Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi masih kekurangan informasi akan data dasar keanekaragaman hayatinya.

Pengkajian berskala seluruh pulau terakhir di Sulawesi dilakukan oleh WCS di tahun 2002 (Christy & Lentey, 2002). Kurangnya informasi ini menghalangi kerja konservasi untuk mencapai tujuan nasional peningkatan populasi spesies prioritas hingga 10% dalam lima tahun (MoEF, 2015). Tujuh spesies prioritas Sulawesi adalah:

  • Maleo (Macrocephalon Maleo),
  • Babirusa (Babyrousa Babirussa),
  • Anoa (Bubalus Quarlesi) dan (Bubalus Depressicornis),
  • Tarsius (Tarsius Fuscus),
  • Sulawesi Black Macaques (Macaca Nigra),
  • Dare (Macaca Maura).

Penjelasan lebih detail mengenai penjelasan spesies prioritas tersebut dapat dilihat melalui halaman berikut.

ENHANCING THE PROTECTED AREA SYSTEM IN SULAWESI FOR BIODIVERSITY CONSERVATION (E-PASS)

Adalah proyek bantuan luar negeri yang dirancang guna membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, khususnya pembangunan konservasi di Sulawesi. Proyek ini mendapat dukungan pendanaan dari GEF (Global Environment Facility) sebesar USD 6.265.000,- untuk jangka waktu 5 tahun (2015-2020).

Tujuan utama Proyek E-PASS adalah memperkuat efektifitas dan keberlanjutan pendanaan sistem kawasan konservasi di Sulawesi dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.

EPASS BIODIVERSITY INFORMATION SYSTEM

Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Gedung Pusat Kehutanan Manggala Wanabakti Blok 7 Lt. 7 Jl Jend Gatot Subroto Jakarta 10270, Indonesia